JUARANEWS – Keluarga Sakinah, Mawaddah wa Rahmah(Samara) adalah
sebagai tanda kekuasaan Allah. Keluarga Samara itu terwujud adalah kuasa
Ilahy, tetapi manusia diwajibkan untuk mengusahakannya. Keluarga Samara
terbentuk adalah kehendak Ilahy, tetapi manusia wajib merencanakannya.
Firman Allah Ta’ala: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya
ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya
kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di
antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar-Rum (30) ayat 21)
Keluarga Wa Rohmah
Wa Rohmah artinya adalah kasih sayang yang abadi hingga berlabuh di
surga. Dimana suami dan istri membangun rumah tangganya dengan didasari
oleh saling menyayangi selamanya.
Ketika diawal pernikahan
dimulai dengan mawaddah atau ketertarikan (kecintaan) karena Allah
ta’ala, kadang diperjalanan rumah tangga terjadi dinamika yang tak
disangka sejak awal. Rohmah adalah kekuatan yang menjamin tetapnya
kecintaan dan kasih saying walau seberat apapun dinamika itu terjadi.
Tanpa adanya Rohmah seringkali rasa cinta yang sejak awal dibangun
luntur, atau bahkan sirna samasekali.
Untuk menjamin agar Rohmah
(rasa kasih sayang) menjadi abadi, hingga kecintaan suami dan istri
menjadi lestari sampai hari akhir, maka rasa cinta kepada pasangan harus
ditundukan kepada sang pemilik Cinta yang sejati yaitu ALLAH TA’ALA.
Rasa
cinta kepada pasangan hidup yang telah ditundukan kepada pemilik cinta
sejati adalah dengan sebangunnya visi bersama. Visi itu adalah Meraih
kasih sayang (Rohmah Allah) danRidha Allah Ta’ala.
Keluarga yang
telah sama visinya yaitu Mardhatillah (ridha Allah), maka semua gerak
dan dinamika keluarga akan diarahkan kepada satu tujuan, yaitu bagaimana
agar Allah meridhainya.
Jika datang kemiskinan atau musibah
lainya, maka konsentrasi suami dan istri adalah bahu membahu bagaimana
dengan kemiskinan ini Allah meridhainya, dan Allah akan ridha jika kita
sabar. Maka kesabaran menjadi konsentrasi geraknya. Tetapi jika tidak
ada visi mencari Ridha Allah, maka suami istri akan sibuk berkeluh kesah
dan saling menyalahkan.
Jika datang kekayaan atau nikmat, maka
konsentrasi suami istri adalah bahu membahu ; bagaimana dengan kekayaan
ini Allah meridhainya, dan Allah akan ridha jika kita syukur. Maka
kesyukuran menjadi konsentrasi geraknya. Tetapi jika tidak ada visi
mencari Ridha Allah, maka suami istri akan sibuk berpoya-poya dan saling
membanggakan atau merasa paling berjasa.
Keluarga wa Rohmah
adalah keluarga yang sudah sepakat dan berkeras mencapai visi bersama
Mardhatillah (ridha Allah). Sehingga kecintaan kepada pasangan akan
lestari terjaga hingga hari akhir, tidak berhenti kecintaannya didunia
saja, atau berhenti karena tragedi dan musibah yang menimpanya.
Keluarga
wa Rohmah adalah keluarga yang suami dan istri saling mencintai dan
saling meridhai. Jika suami dan istri sudah saling meridhai maka
kesalahan-kesalahan kecil dalam perjalanan rumah tangga akan dibalut
dengan kekuatan cinta dan saling memaafkan. Bahkan jika kesalahan
besarpun terjadi maka pintu permaafan akan mudah dilalui bersama. Karena
visinya yang tajam yaitu meraih Ridha Allah. Ridha Allah menjadi besar
dalam visi (pandangannya) semntara kasus dan tragedi dalam rumah tangga
menjadi kecil dalam visinya.
Membangun keluarga yang wa Rohmah,
yaitu keluarga yang menjamin pasangan suami dan istri menjadi saling
menyayangi dan meridhai selamanya. Penajaman visi mardhatillah menjadi
proses yang terus menerus perlu dilakukan.*** tamat >> (waiman
Abdurrahman).